Diposkan pada Tidak Dikategorikan

Bagai Kacang Lupa Kulitnya

Halo, Sahabat Pena!

Seringkali kita marah, ataupun kecewa dengan perlakuan orang tua. Lalu dengan pede akan berkata, “Kalau sudah dewasa, aku takkan memperlakukan anak-anakku seperti mereka.” Apakah kalian yakin dengan pernyataan yang telah kalian utarakan? Bisakan kalian bertanggung jawab atas itu?

Wahai, sesungguhnya menjadi orang tua bukanlah sebuah perkara yang mudah. Seorang ibu yang harus tertatih dan jatuh sakit ketika mengandung anaknya selama 9 bulan. Makan rasanya tak enak, mual sampai muntah-muntah. Tidur pun tak nyenyak, miring sana-sini, gonta-ganti posisi untuk bisa tidur dengan nyaman.

Setelah selesai masa kehamilan, ia harus bertaruh nyawa demi memperjuangkan hadirnya kita di muka bumi ini. Kadang kala, perutnya harus rela disobek demi nyawa seorang manusia, yaitu kita. Kita telah menorehkan luka padanya bahkan sejak kita lahir. Tubuhnya menjadi jelek karena melahirkan kita. Berapa banyak ibu yang meninggal dunia ketika dia melahirkan anaknya?

Ia harus menyusui, menggendong, rela tak tidur malam karena tak tega melihat kita nangis meraung-raung. Tak ada yang bisa kita lakukan selain menangis. Mau makan, nangis. Mau minum, nangis. Buang hajat, nangis. Lalu siapa yang datang menghampiri? Sosok ibu kalau mendengar anaknya menangis, apapun yang sedang ia lakukan segera ditinggalkannya. Entah sedang makan, masak, mandi, atau tidur sekalipun. Lihatlah, dari kecil kita telah menyusahkan mereka.

Namun, apakah mereka kesal, marah, lalu pergi dan tak peduli pada kita? Tidak. Karena keberadaan kita merupakan anugerah yang sangat istimewa bagi mereka.

Lalu, apakah berhenti sampai situ saja? Selesai sudah lelahnya mereka? Memang ketika kita lahir dengan selamat, Allahu Akbar! Ibu langsung lupa dengan rasa sakitnya selama 9 bulan, lupa dengan jeritannya ketika mengeluarkan kita. Kalaupun ada air mata, itu adalah sebuah bentuk bahagia yang tak bisa terkata. Namun, ternyata perjuangan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Mereka harus mengajari kita bagaimana menjalani kehidupan dengan baik dan benar. Itulah tugas terbesar dan tersulit yang harus mereka emban.

Seorang ayah yang dengan susah payah bekerja, banting tulang, siang malam, demi mendapat upah. Untuk apa? Tak lain dan tak bukan untuk memenuhi kebutuhan dan kebahagiaan keluarganya termasuk kita. Ia yang harus tetap terlihat kuat, walaupun hatinya retak dan raganya penat. Karena ia tahu, hanya ia satu-satunya benteng yang berdiri paling depan untuk melindungi keluarganya. Di balik setiap sujud panjangnya, selalu terselip semoga untuk anak tercintanya. Di balik setiap omelan dan amarahnya, terdapat kasih sayang tulus yang tak dapat diungkapkannya.

Dikisahkan oleh seorang Syeikh, bahwa ada seorang perempuan di Negeri Arab yang berprofesi sebagai dokter. Suatu hari, datanglah pemuda bersama ibunya untuk berobat. Ketika masuk ke dalam ruangan, ibunya memutar-mutar meja, lalu menunjuk ke arah televisi yang menampilkan gambar Ka’bah di kota Mekkah. Sontak ia menunjuk ke anaknya lalu berkata, “Heh Mat, kamu bohong ya sama ibu? Katanya kamu mau bawa ibu umroh?”

Dengan sabar dan telaten si pemuda menenangkan ibunya, kalau kerudungnya terlepas dipakaikannya kembali ke kepala sang ibunda. Kadang ia diludahi, digigit, oleh ibunya sendiri. Dokter pun bertanya, “Siapakah dia? Apa dia ibumu?” Ia menjawab, “Ya, dia ibuku.” Perempuan yang kini ada bersamanya memang ibu kandungnya. Dulu, ibunya dinikahkan oleh kakek dengan seorang pria. Namun, karena kondisi kejiwaannya yang seperti itu, pernikahannya hanya bertahan selama 10 bulan. Jadilah ia terlahir dari rahim seorang ibu yang gila.

“Kamu berbakti sama dia? Dia kan ga kenal sama kamu?” ucap sang dokter haru. “Iya, dia memang gak kenal sama saya. Tapi Allah tahu kalau dia ibu saya. Saya harus berbakti sama dia,” jawab pemuda tersebut. Setelah selesai pengobatan, mereka pun beranjak pulang. Sang dokter menangis tergugu, lalu berucap, “Saya sering mendengar tausiyah tentang birrul walidain, berbakti kepada orang tua. Tapi baru kali ini saya lihat sendiri kebaktian seorang anak sama orang tuanya.”

Dikisahkan juga, ada seorang sahabat yang izin untuk berjihad, untuk mendapatkan surga paling tinggi kalau ia mati syahid. Lalu ia ditanya oleh Rasulullah صلى الله عليه و سلم, “Apakah ayah ibumu masih hidup?” Sahabat tersebut mengiyakan. Rasulullah صلى الله عليه و سلم pun menjawab, “Pulanglah! Di sana ada surga.

Pada lain kisah, disebutkan bahwa dahulu, di zaman Umar ibn Khattab, ada seorang pemuda yang datang kepadanya. “Ya Amirul Mu’minin, aku sekarang menjadi kendaraan ibuku. Dia lumpuh, sehingga aku yang membersihkan kotorannya, menyuapinya makan, dan aku berusaha untuk berbakti kepadanya. Lalu, apakah aku sudah membalas kebaikan ibuku?” Umar ibn Khattab dengan tegas berkata, “Tidak, sesungguhnya engkau belum membalas seluruh kebaikan ibumu.”

“Ya Amirul Mu’minin, bukankah aku telah berbuat kepada ibuku seperti apa yang ia perbuat padaku dulu sewaktu kecil?” “Ibumu merawatmu waktu kecil, karena ia berharap engkau bisa hidup. Sedangkan kini engkau merawat ibumu yang sudah tua, sakit-sakitan, engkau berharap ibumu mati!

Sahabat sekalian, sungguh mulia kedudukan orang tua di mata Allah terutama ibunda. Seburuk apapun perlakuan mereka padamu, mereka tetap orang tuamu. Dan kita sebagai anak tetap memiliki kewajiban untuk senantiasa berbuat baik kepada mereka. Janganlah kita lupa dengan semua perjuangan mereka yang telah menjadi wasilah untuk adanya kita di kehidupan ini. Janganlah kita lupa dengan air mata mereka yang mungkin sudah terkuras sekian banyaknya karena kesalahan-kesalahan kita.

Untukku, kamu, dan kita semua, mari sama-sama berbuat dan bertutur kata yang baik kepada kedua orang tua selagi kesempatan masih ada. Jangan lupa untuk selalu melangitkan semoga dan deru harap di sepertiga malam. Dan terakhir, jangan jadi macam kacang yang lupa pada kulitnya.

Harta yang paling berharga adalah keluarga
Istana yang paling indah adalah keluarga
Puisi yang paling bermakna adalah keluarga
Mutiara tiada tara adalah keluarga

5 tanggapan untuk “Bagai Kacang Lupa Kulitnya

  1. ibu gak pernah lupa kok sama sakit dan perjuangan melahirkan, tapi itu jadi pengingat betapa berharganya anak yang dilahirkan ( ini mah opini yang udah jadi emak, wehehehe )

    Disukai oleh 2 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s