Diposkan pada Tidak Dikategorikan

Bercengkrama dengan Kopi

Pinterest

Kini, aku tengah memandangi secangkir kopi di hadapanku. Namun, alih-alih ditemani oleh sinar mentari pagi dan kicau burung kenari, malah diselimuti oleh gema jangkrik yang sahut-menyahut mengisi sunyi. Aroma yang menguar kuat, merasuki setiap inci saraf penciuman. Membangkitkan semangat yang tadinya padam, membongkar seluruh kenangan di masa silam.

Kepulan asap yang mengambang menciptakan siluet bayangan dari sosok yang dulu seringkali aku elu-elukan. Yang selalu memenuhi tiap lembar buku harian, menyesakinya dengan memori-memori tak terlupakan.

Barangkali memang begitu, aku dan kamu yang kala itu menabur angan tentang masa depan. Menjaga, merawat, dan menyemainya dengan kasih sayang hingga menghasilkan benih-benih harapan. Kerinduan itu datang tanpa undangan, menyelinap diam-diam. Tanpa suara, hening, tak bergeming.

Di luar sana, melodi sepi mengalun indah di tengah rintik hujan yang tak kunjung berhenti. Semilir angin yang kian mendingin, gemuruh petir yang menggelegar, membelah langit malam yang semakin kelam.

Aku menyandarkan bahu pada kursi, berusaha menyelami kenangan yang mulai berkelebat dalam pikiran. Bagaimana kabarnya? Di mana keberadaannya sekarang? Apakah ia sudah menemukan tempat singgah  yang baru? Sudah lama kita tak bertukar kabar, bahkan untuk sekedar menyapa saja jemari ini gemetar.

Untuk kesekian kalinya, malam membawaku pada kilas-balik peristiwa ketika dunia bak taman surga yang bertaburan bunga. Mendamba dan memuja pada jiwa yang menghadirkan tawa di tepi senja. Merengkuh kesendirian bersama hangatnya kebahagiaan. 

Malam ini terasa senyap, aku  hanya ingin bercengkrama dengan secangkir kopi yang masih mengepulkan asap. Ketika tegukan pertama melewati kerongkongan, sorot mata jenakanya mulai terngiang, lengkung bibirnya, tatapan sendunya mengikuti bayang.

Dulu, dulu sekali aku pernah terjatuh pada pesona itu. Seandainya saat itu mataku lolos dari tatapanmu, mungkin tak akan pernah terjadi temu. Aku dan kamu masih akan menjadi orang asing tanpa tahu-menahu satu sama lain. Dulu, ya itu dulu.

Ketika aku belum berkawan dengan pilu yang semakin lama terasa ngilu. Yang perlahan merubah warna hari-hariku menjadi kelabu. Meninggalkanku sendirian di tengah derasnya rintik rindu, duduk termangu, pengap oleh sendu yang menikam kalbu. Sampai akhirnya aku lemah, menyerah dan patah bagaikan sekuntum mawar yang layu.

8 tanggapan untuk “Bercengkrama dengan Kopi

    1. Iya, tulisan ini based on true story😆 Sebenarnya ini hanya sepenggal tulisan dari karyaku yang masih on progress. Kamu bisa baca kelanjutannya di KBM app ya, jangan lupa mampir dan subscribe. Aduh jadi promosi😂

      Disukai oleh 2 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s