Diposkan pada literasi

Adaptasi dengan Dunia Literasi

Beberapa bulan belakangan, aku mendadak aktif menjadi penggiat literasi. Di mana kutemukan kegiatan yang berbau aroma-aroma buku, mulai dari membaca, menulis, bedah buku, seminar, diskusi, dan lain sebagainya, aku selalu hadir meramaikan dan berpartisipasi. Semangatku menggebu. Seperti menemukan sebuah dunia baru, yang unik dan menarik untuk diteliti dan dipelajari lebih lanjut.

Walau sebenarnya, bidang tersebut mencakup aspek yang lebih luas dari sekedar membaca dan menulis. Dengan adanya kegiatan baru ini, sebagai manusia biasa aku pasti mengalami beberapa adaptasi sebagai bentuk dari penyesuaian diri. Baik secara fisik, seperti menyesuaikan waktu dengan kegiatan lamaku, memangkas jam tidur siang, memanfaatkan waktu-waktu senggang untuk kegiatan yang belum terselesaikan, lalu jadi terbiasa tidur malam. Pokoknya, aku tidak akan beranjak istirahat sebelum semua kegiatan selesai.

Jadwal harianku menjadi lebih teratur, padat dan berisi. Namun, sudah pasti bermanfaat. Tidak ada lagi kata bosan ketika menganggur. Karena, hampir setiap hari pula tidak ada kata berhenti untuk lembur. Maka, tersedianya waktu kosong menjadi lebih berharga. Aku belajar lebih banyak bagaimana cara manajemen waktu yang baik.

Adapun dari segi nonfisik, tak jarang pikiranku merasa lelah karena terus menerus digunakan untuk bekerja. Aku jadi lebih sering menyendiri, sibuk dengan aktivitas dan tumpukan tugas. Family time kerap kali terabaikan dan teralihkan oleh ramainya kegiatan.

Namun, dari kegiatan belajar dan berorganisasi ini, aku mendapat banyak insight baru. Yang sangat bermanfaat bagi diriku sendiri maupun orang lain. Sekarang, emosi dan tingkah lakuku menjadi lebih terkendali. Walau harus mengerjakan banyak hal dalam waktu yang bersamaan, tapi aku tidak lagi merasa sedikit pun tertekan.

Rasa insecure atau tidak percaya diri yang sering kali muncul, perlahan memudar dan berkurang sedikit demi sedikit. Aku mendapat beragam cara pandang baru, pengetahuan baru, relasi baru dari latar belakang yang berbeda-beda, dan yang terpenting adalah pengalaman. Yang tidak semua manusia bisa dapatkan, kecuali mau nekat keluar dari zona nyaman.

Sangat jauh berbeda dengan awal mula aku menceburkan diri ke dunia literasi. Rasanya, hampir setiap hari kepalaku penuh oleh ledakan dan tekanan dari sana-sini. Merasa tidak pantas, tidak percaya diri, dan berbagai pikiran negatif lainnya. Sebagai pemula, perasaan-perasaan tersebut sangatlah wajar. Terima saja, resapi, lalu abaikan sampai ia menghilang. Jadikan ia sebagai bagian dari sebuah proses yang tengah kita perjuangkan.

Aku hanya perlu mengalah dengan rasa lelah, berdamai dengan rasa kalah, lalu terus melanjutkan langkah. Hingga akhirnya aku terbiasa, dan menjadikan hobi baruku ini sebagai percik harapan untuk terus mewariskan kebaikan serta menjadi sosok pribadi yang lebih baik dan menyenangkan.

Tak usah terlalu berkobar, khawatir lama-kelamaan malah berpendar. Lalu, perlahan hilang dengan samar-samar. Jalani semampunya dan nikmati prosesnya.

17 tanggapan untuk “Adaptasi dengan Dunia Literasi

  1. Jujur.. aku juga awalnya insecure sama kemampuan diri sendiri mbak. Tapi karena aku mulai membuka diri untuk tahu lebih banyak tulisan orang lain, rasa ketidakpercayaan diri itu lama-kelamaan memudar, walau kadang masih suka muncul, tapi ya harus terpaksa menghilangkannya, kalau enggak nggak bakal maju kita. Hihi..

    Disukai oleh 1 orang

    1. Rasa insecure bagi pemula emang wajar banget sih ya, hehe. Menurutku, cukup diterima aja, jadikan ia bagian dari proses yang sedang kita jalankan. Dan poin terpentingnya, ya bagaimana cara mengelola rasa insecure itu sendiri. Semangat kak! Yuk, kita ganti insecure dengan bersyukur 😊

      Suka

  2. Halo mbak Melati, salam kenal yaπŸ‘‹πŸ»

    Proses adaptasi dari sebuah kebiasaan lama (apalagi yg terbilang senggang) ke sebuah kebiasaan baru yg membutuhkan tenaga esktra pastinya butuh effort lebih ya😊. Aku pun rasanya waktu awal-awal menjalani kesibukan serasa cepat lelah dan bawaannya pengen udahan aja, tapi setelah dijalani toh lama-lama terbiasa. Malah sadar bahwa waktu yg terpakai jadi nggak terbuang sia-sia😁.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s